Rabu, 11 Mei 2011

Senandung Seruling Bambu Raksasa Dari Bumi Sasak, Nusa Tenggara Barat


 Oleh: Putu Sugih Arta*

Kesenian musik bambu, sebagai warisan budaya nusantara  kebanyakan  dikenal orang dalam wujud  angklung. Namun, untuk saat ini berbeda, di Desa Sesela, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi NTB terdapat seni musik unik yang juga berasal dari bambu berbentuk seruling raksasa, mereka mengenalnya dengan sebutan “musik bambu semprong”. Musik seruling bambu ini, diapresiasi kalangan budayawan, di Teater Tertutup Taman Budaya Nusa Tenggara Barat, 7 Juni 2008 lalu.
    Menilik asal kata semprong merupakan  sejenis alat yang mengeluarkan suara khas tatkala  ditiup para wanita tempo dulu, saat mereka membesarkan perapian tanah di dapur tradisional. Kini, pada abad teknologi yang serba cepat menggerus kebiasaan memasak secara tradisional menjadi modern. Seiring dengan perkembangan zaman itu, kebiasaan memasak tidak lagi menggunakan kayu bakar, melainkan menggunakan peralatan kompor minyak, bahkan di kota besar lebih banyak menggunakan kompor gas. Bambu semprong sebagai alat bantu mulai ditinggalkan masyarakatnya. Dari inspirasi ini, rupanya warga Desa Sesela, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi NTB sejak dahulu  menciptakan bentuk kesenian turun temurun yang berasal dari bambu semprong. Suaranya khas berirama bass itu, secara kompak ditiup oleh anggotanya sehingga menimbulkan paduan suara yang menakjubkan.
    Kelompok musik seruling raksasa ini, dulunya, dilestarikan oleh tokoh musik Suku Sasak yang bernama Amaq Alit. Dan, mereka menyebutnya dengan musik khas Sasak zaman lampau.Sejak tahun 1998, kegiatan musik bambu semprong diwarisi oleh Suhaemi dan kawan-kawannya, dengan mencoba melakukan atraksi pada beberapa hotel di Mataram dan kawasan Pantai Senggigi untuk menghibur para turis mancanegara maupun domestik. Dari hasil upah itulah, mereka menghidupi keluarganya, selain pekerjaan tetap sebagai petani bagi hasil dengan cara mengerjakan sawah-sawah milik tuannya.
    Musik bambu semprong  divisualisaikan dengan wujud bambu besar dengan suara mirip auman harimau. Namun suara ini dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan pemusik. Dalam konteks sajian, sebagai bentuk musik konser dapat dibantu dengan musik lainnya seperti biola, misalnya. Musik ini termasuk bagian musik minimalis. Hal ini karena sajiannya hanya menggunakan beberapa alat musik saja.
    Sanggar musik bambu semprong dipimpin oleh Suhaemi dengan beberapa anggota yakni Syahrani, Muhair, Zaini dan Murad. Adapun  instrumental lagu (gending) yang ditembangkan dengan judul : Gending Ke Desa, Geding Kejawen, Gending Ngrang-rang dan sebagainya. Dari gending itu, salahsatunya ada yang bernuansa sakral, misalnya gending kejawen.  Instrumental ini kerapkali dipakai untuk selamatan seorang bayi yang hamil. Isi dari gending kejawen ini merupakan sebuah doa yang isinya memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar ibu dan bayi yang dikandung selalu mendapat berkah kesehatan sampai sang ibu melahirkan putranya. Selamatan ini bagi etnik sasak dikenal dengan sebutan upacara selamatan cuci perut. Suhaemi berharap, agar kesenian ini tetap lestari sepanjang zaman, kendati realitanya semprong sudah tidak digunakan lagi sebagai alat bantu memasak.

*Sastrawan & Pemerhati Budaya Prov. NTB

2 komentar: